Maaf...Aku tak Tergoda...

Hari ini hari pertama puasa, tapi rasanya sama saja situasinya sama hari kemarin, tak memperlihatkan tanda-tanda bahwa hari ini sedang puasa Ramadhan, maklumlah di Bali. Terasa Ramadhan pas sholat tarawih saja, rasanya kayak tarawih di kampung halaman, masjid penuh sesak, nampak wajah-wajah ceria dengan kain sarung, baju koko, songkok warna-warni, jilbab putih nampak lalu lalang berkibar di terpa angin malam, semua nampak semangat menyambut bulan Ramadhan.

Tapi kalau siang hari, kayak tadi siang, ketika lewat di Jl. Kartika Plasa, Kuta, nafas Ramadhan nyaris tidak tampak, bahkan boleh di kata memang tak ada, orang-orang duduk di pinggir jalan dengan asyiknya menyantap makanan, minum es degan, bule-bule malah mulutnya asyik menyeruput es krim ditangan...tadi ketika mereka menyeruput es krim, kayaknya mak cles...lewat tenggorokan, ger tenan...tapi cuma di hati lho, tak batin wae.

Warung-warung pinggir jalan pun nampak ramai, walau kelihatannya yang jualan juga muslim, di buka penuh, beda dengan di jawa. Bule-bule berlalu lalang dengan pakaian super minim...terbiasa irit bahan kali, he3...ya itu , namanya juga Bali, terserah lo aje mau ngapain, ndak ada yang akan buang lo ke laut...

Itu salah satu godaan kali... tapi itu godaan yang biasa aja, gak berat, mudah di hadapi, mudah dilewati, yang berat mungkin dari dalam diri kali... berat tuk melepas ego yang maunya sendiri, merasa tinggi hati, sulit merendah, di kritik gampang marah, dikasih tahu ngedumel, merasa benar sendiri, paling tahu, padahal cuma sedikit ilmu yang diketahui, paling ganteng...sekomplek kali..itupun karena sekomplek mudik semua, tinggal Ia sendirian..

Kalau masih hari pertama gini biasanya memang masjid masih pol, meluber sampai jalan, kalau pulang ribet nyari saldal yang dah pindah tempat, untung gak ilang, parkiran penuh, kotak amal masih kisaran satu jt lebih, semangat ke masjid masih mengebu-ngebu.

Semoga itu bisa terus bertahan sampai akhir Ramadhan, tapi seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya...puasa memasuki minggu kedua, jama'ah mulai maju kedepan, suara riuh orang berangkat ke masjid berlahan mulai hilang, sandal-sandal gak lagi ribet dicari karena tinggal sedikit, kotak amal cuma kisaran lima ratusan rb, semua sudah mikiran mudik, bahkan sudah banyak yang pulang kampung, ingin menghabiskan separoh Ramadhan dikampung halaman, akhirnya masjid pun terasa longgar...

Ya..begitulah Ramadhan di perantauan, penuh warna-warni, tapi menjadi bumbu-bumbu kehidupan, menjadikan hidup penuh warna kayak warna-warni hidangan berbuka puasa. Semoga aja Ramadhan kali ini penuh berkah, mendapatkan berjuta pahala, dosa-dosa yang telah lalu terampuni...menjadi diri yang Fitri di akhir Ramadhan nanti. Amin Ya Robbal'alamin.
Label: 1 komentar | | edit post

Marhaban Yaa Ramadhan

Tak terasa satu tahun telah terlewati, bulan ramadhan yang penuh rahmat kembali menyapa, menyapa siapa yang merindukannya, merindu untuk bermesra sepanjang bulan bersama, untuk menikmati bulan yang penuh dengan ampunan, ampunan yang ditunggu para hambanya yang sadar bahwa dosa-dosanya tiap hari bertambah, bertambah, dan bertambah, bahkan jikalau dosa itu tampak berwujud dihadapan kita, mungkin tubuh akan bergetar ketakutan, atau menggigil sampai pingsan.

Kucoba tenggok ke belakang, mungkin barisan dosa-dosa ku panjang tak terlihat ujungnya, saking panjangnya, dan amal-amal ku mungkin hanya tiga baris di belakang, terkadang hati bergidik, tubuh bergetar, jiwa merana, keringat keluar bagai butir-butir jagung yang jatuh dari tonggolnya, kalau kuingat betapa sedikit amal yang telah aku perbuat, betapa banyak deret dosa yang telah berbaris menunggu saat perhitungan. Aku berdo'a kepada Sang Pencipta Makluk, semoga selama satu tahun ini, apa yang telah aku jalani dalam kehidupanku, dalam menjalani tugas dan kewajiban sebagai seorang hamba yang menghamba kepada Sang Tuannya, mendapat penilaian yang baik di mata Sang Tuan, bukan penilaian yang bernilai E, apa jadinya kalau nilai-ku E, betapa banyak kesalahan yang telah aku perbuat kepada Sang Tuan Kehidupan, betapa aku telah membuat-Nya murka, murka kepada hambanya yang tidak taat menjalankan semua perintahnya.

Karena Allah Swt. sangat luas samudera ampunannya, karena Maha Pengampun adalah sifatnya, maka dengan ampunan-Nya lah para hamba masih punya asa untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah terjadi kemarin, atau mungkin satu bulan yang lalu, satu tahun yang lalu atau bahkan bertahun-tahun yang lalu, sepanjang kehidupannya yang telah lewat. Karena ampunan Allah mendahului murkanya, dan ampunan hamba akan diterima, jika bertobat dengan sebenar-benar tobat, sebelum ajal membawa nafas terakhir.

Inilah kesempatan yang baik untuk memperbaiki kesalahan dan dosa yang lalu, mencoba introspeksi pada diri, menggapai berjuta untaian janji Allah yang diberikan kepada kaum mukmin untuk senantiasa berharap dan penuh semangat menyambut bulan yang penuh pahala kebajikan, pahala yang dilipatgandakan nilainya untuk menjadi bekal di hari perhitungan amal nanti.

Maka di bulan yang suci ini, aku berharap dapat melakukan yang terbaik yang dapat aku lakukan untuk bulan Ramadhan ini. Dapat berbuat maksimal untuk menumpuk pahala, pahala yang akan dibawa ke alam akhirat nanti, karena semua harta, benda, keluarga , jabatan, kekasih, dan semua yang dimilikinya di dunia akan tetap tinggal tak akan menemaninya pulang ke alam keabadian, hanya sebutir-dua butir pahala yang akan menemani di tempat sunyi, sepi sendiri, gelap, sempit walau kanan-kirinya tampak berjejer rekan, teman, sahabat, handai taulan, tetangga, sampai orang yang tak di kenal pun nampak rapi berbaris di samping kita.

Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari pada tahun kemarin, puasa pun bisa lancar tanpa kendala yang berarti, sholat tarawih mulus tanpa bolong-bolong karena kantuk kekenyangan, sholat tahajud bisa pol sebulan penuh, bukan kadang-kadang karena males sudah berselimut rapat, khatam Al-Qur'an, dan amalan sunat lainnya.

Walau semua itu harusnya dilakukan bukan pada bulan Ramadhan saja, tapi kalau di bulan biasa kadang-kadang banyak bolongnya, banyak malasnya, banyak lupanya, dan banyak alasan lainnya yang menjadi kata pembenaran bagi sang hamba, tapi bukan bagi Sang Pencipta.

Harapan-ku, semoga bulan Ramadhan tahun ini menjadi awal untuk tetap teguh menjalankan perintah-Nya, mencintai-Nya, merindukan-Nya, karena kalau seorang kekasih telah jatuh cinta kepada sang pujaan hatinya, maka ia akan rela melakukan apa saja yang diperintahkan, yang diminta, dan yang dilarangnya, demi sang kekasih. Demikian juga kalau sang hamba sudah mencitai Sang Pencipta, merindukan-Nya, maka ia akan dengan senang hati, penuh kegembiraan, tanpa ada paksaan, tidak menunda-nunda tapi dengan penuh semangat akan menjalankan semua perintah-Nya.

Akhirnya kan-ku songsong bulan yang penuh rahmat dan barokah ini dengan hati gembira, penuh dengan harapan-harapan, penuh suka cita, dan sejuta niat untuk memperbaiki kwalitas kehidupan yang telah aku jalani, agar tahun ini lebih baik dari tahun yang telah lewat. Marhaban Yaa Ramadhan...

Mbah Atmo

Mbah Atmo, begitulah orang-orang memanggilnya. Sebuah nama yanh khas, nama yang mencirikan bahwa pemiliknya seorang yang berasal dari tempo dulu, alias oldies. Karena nama itu jaman sekarang katanya kurang keren, sudah jadul, tapi kupikir itu nama yang cukup oke kalau di pakai anak jaman sekarang karena tak akan ada kembarannya. Sebab sudah tidak ada lagi yang memakainya. Kalau dengar nama Atmo sudah otomatis tahu kalau itu...wis mesti wong jowo. Padahal kalau dikombinasikan sama nama asing nampaknya bagus juga...sperti Steven Atmo, Atmo Glucevig, Atmo Magandhi, atau Atmo Teves.

Tapi aku tak mempersoalkan nama itu, karena yang punya nama itu senang-senang saja, tak ada yang salah dengan nama itu apalagi sudah pakai nasi merah segala waktu kasih nama itu. Mbah Atmo...aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu, kebetulan sering ke pasar Klewer Solo. Mbah Atmo kantornya memang di psar Klewer, karena Ia memang berjualan disitu, jualan jajan pasar seperti wajik, jenang, krasian, tahu bacem, klepon dan sebangsanya.

Seperti orang Solo kebanyakan, khususnya yang sudah berumur atau sudah tua, mbah Atmo juga memakai jarit batik, yang nampaknya juga sudah tua. Dengan duduk menghadap tampah* yang diletakkan diatas tenggok atau senik** sambil bersandar pada tembok pasar Klewer yang sudah kusam, mbah Atmo menjajakan dagangannya, sambil diselingi guyonan dengan teman di kiri kanannya, nampak mbah Atmo sangat menikmati pekerjaannya, walau hasilnya hanya cukup untuk keperluan pokok saja, membeli beras, minyak tanah, dan lauk-pauk sekadarnya. Wajah mbah Atmo selalu sumringah, secerah langit fajar di ufuk timur, selalu semangat, walau pulang dan pergi hanya berjalan kaki di atas tapak kaki yang sudah renta itu.

Kalu ngobrol, tak ada habisnya. Bahan obrolannya ada saja, kebetulan mbah Atmo pintar bercerita, cerita apa saja mulai dari masa kanak-kanaknya di masa penjajah Belanda yang senang bermain wayang suket bersama teman sebayanya sambil angon kerbau sampai jaman Solo modern sekarang ini.

Mbah Atmo tinggal sendiri, menempati rumah yang tak seberapa besar di daerah baluwarti Solo. Menurut cerita mbah Atmo, sebenarnya sama anak-anaknya sudah dibujuk supaya tinggal bersama salah satu anaknya, kebetulan anaknya sudah berhasil semua, yamg tertua jadi guru SD di daerah Boyolali, yang kedua jadi karyawan di Jakarta, dan yang bungsu bekerja di Kalimantan, tapi mbah Atmo menolaknya karena masih ingin tinggal dirumah yang sudah puluhan tahun ditempatinya, yang mempunyai ribuan untaian kenangan, baik suka maupun duka, tapi yang terpenting kata mbah Atmo, Ia ingin tetap bekerja selama masih diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa, tak ingin berpangku tangan menunggu bantuan orang lain walaupun itu anaknya sendiri. Mbah Atmo punya prinsip selama masih bisa berbuat, maka berbuatlah semampumu jangan menyia-nyiakan apa yang telah di berikan oleh Allah, karena bekerja adalah ibadah dan ibadah tak ada kata untuk pensiun. Seperti jawaban Imam Ahmad ketika ditanya orang, kenapa engkau tak istirahat barang sebentar saja, jawabnya istirahat tempatnya hanya di surga.

" Klepon? pun telas nak."
" Kantun bacem, jenang, kaleh nogosari."
" Nopo ngersakke nogosari?" imbuh mbah Atmo, ketika kutanya tentang kleponnya yang memang jadi jajanan favoritku. Akhirnya aku pun jadi asyik gobrol sama mbah Atmo.
" Mbah Atmo teng masjid riyen, nak, bade sholat dhuhur."
" O..inggih mbah, keleresan, kulo inggih dereng sholat, monggo sareng mbah." ajak-ku.

Masjid Gede Solo memang letaknya tak jauh dari pasar Klewer, cuma menyeberang jalan, tepatnya di depan pasar. Masjid yang sudah berumur ratusan tahun dan berastitektur jawa ini memang jadi tempat favorit untuk beristirahat sehabis sholat, apalagi bagi orang-orang yang berasal dari luar kota, setelah seharian belanja di pasar Klewer, merebahkan diri sejenak di masjid menjadikan rasa lelah pun hilang, apalagi di tambah semilir angin, kadang-kadang rasa kantuk pun tak tertahankan.

Terkadang di masjid pula aku dan mbah Atmo bisa ngobrol lama sekali, banyak yang jadi bahan obrolan. Tentang keseharian, masa kecil, keluarga sampai masalah agama pun ternyata mbah Atmo sangat mumpuni. Aku sangat kagum, ternyat pengetahuan agamanya sangat dalam sekali...aku jadi agak heran karena biasanya orang-orang seumuran mbah Atmo ini unsur kejawennya sangat kental sekali, tapi mbah Atmo tidak sama sekali. Mbah Atmo menjalankan kehidupannya tanpa ada unsur kejawennya sama sekali, seperti biasa yang dilakukan oleh masyarakat yang sering ngalap berkah di keraton pada saat-saat tertentu, misalnya pada bulan suro.

Aku baru tahu seminggu yang lalu, kalau ternyata mbah Atmo ini ternyata Hafidzah atau hafal Al-Qur'an, sungguh luar biasa. Kalau dilihat dari penampilannya yang sangat sederhana itu orang tak akan mengira kalau ternyata mbah Atmo punya sesuatu yang luar biasa. Terkadang penampilan memang sering menipu, karena orang sering memandang hanya dari kulit luarnya saja tanpa mau melongok isi dalamnya. Padahal kulit luar iru terkadang hanya sekedar topeng yang dipercantik, hanya untuk menutupi tabiat aslinya. Keluarga mbah Atmo memang berasal dari keluarga yang taat agama, ayahnya seorang Naib atau penghulu agama di jaman penjajah Belanda dulu, dan sejak kecil mbah Atmo oleh orang tuanya sudah di pondokkan di pesantren, jadi tak heran kalau ilmunya cukup mumpuni.

Maka sejak beberapa bulan yang lalu, mbah Atmo sudah aku anggap sebagi orang tuaku sendiri, seorang sahabat disamping seorang guru tentunya. Karena aku bisa belajar banyak dari mbah Atmo, dan kadang-kadang jadi pemompa semangatku kalu lagi punya masalah, karena petuah dan nasehatnya tak kalah dari pak Dadang Hawari. Cara mbah Atmo memberikan solusi, memberi nasehat, membakar semangat ketika aku sedang gundah atau di rundung masalah, mengalir secara alami tanpa bermaksud menggurui, seperti seorang kekasih yang memberi semangat kepada pujaan hatinya, dengan penuh perasaan tanpa dibuat-buat, tulus dari hati terdalam.

Tapi kemarin, ketika aku bermaksud membeli kleponnya , ada kabar dari teman-teman mbah Atmo, seminggu yang lalu mbah Atmo sudah berpulang ke hadirat Illahi, menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Innalillahi wa innaillahiroji'un. Aku kehilangan sosok seorang sahabat, orang tua sekaligus seorang guru. Sosok yang selama ini telah banyak berjasa kepadaku, seorang nenek yang sederhana namun di balik yang sederhana itu tersimpan sesuatu yang luar basa. Seorang tua yang menjalani kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta dengan sikap tawadhu. Menjalani kehidupan seolah-olah sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk hidupnya, seperti yang diajarkan oleh Nabi akhir jaman Muhammad SAW. dan para sahabatnya, bahwa hidup didunia ini hanyalah sementara, bagai seorang musafir yang sedang istirahat sejenak sebelum menempuh perjalanan ke tempat tujuan yang sebenarnya.

Walau kita di pertemukan hanya beberapa bulan, tapi itu sudah cukup bagiku untuk menimba pengetahuan dari mu, untuk membuatku lebih tahu tentang makna hidup di dunia ini agar nantinya dapat bermanfaat untuk hidupku di dunia dan akhirat.

Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik bagi ambanya yang beriman, surga Firdaus. Tempat yang penuh kenikmatan, tak ada duka lara, tak ada wajah-wajah tua yang ada hanyalah wanita-wanita dan laki-laki muda yang gagah, elok rupawan, dan wajah mbah Atmo yang keriput pun tak ada lagi, hanya wajah mbah Atmo muda yang rupawan, bintang sinetron pun tak dapat dibandingkan dengannya.

Selamat beristirahat di tempat keabadian mbah Atmo, karena tempat istirahat adalah di surga, dansemoga kau disana tersenyum puas, penuh kegembiraan. Aku akan selalu mengenang-mu dan mendo'akan-mu. Selamat jalan mbah Atmo.

Sragen, Agustus 2009

Tampah* = sejenis nampan dari anyaman bambu, berbentuk bulat besar.
Tenggo atau Senik** = sejenis keranjang dari anyaman bambu.
Label: 1 komentar | | edit post
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x